.

Selasa, 19 Mei 2015

My Profile

Nama   : Dais Susanti
TTL      : Ciamis, 14 Maret 2000
Sekolah : SMK Negeri 1 Kawali
Kelas    : X Adper 1

puisi lainya

KAU LULUHKAN HATIKU DENGAN JILBABMU

Oleh Satya Zulfiqar Ipnu

Malam semakin larut...
Mata pun tak dapat terpejam..
Lentera kecil menemani ku..
Disudut ruang penuh kesepian..

Ku sandarkan ujung hari ku disini..
Di antara retakan sutera penghangat kalbu..
Nafas panjang melepas beban pikiran ku..
Sekilas hadir bayanganmu di sampingku..

Ingin ku sapa lembut dengan salam ku..
Kupeluk erat dengan do'a ku..
kumanjakan kamu dengan nada-nada dzikir ku..
Sebagai tanda betapa aku menyayangimu..

Kau sentuh hatiku dengan ujung jilbabmu..
Hadirmu mu mengobati dahaga rindu ku..
Bersemi bahagia yang telah lama terkubur rasa duka..
Berguguran segala kesedihan di yang telah ada..

Rasa ini bagai air yang mengalir menuju muaranya..
Dimana aku dan kamu terseret arus yang sama..
Disana kita bersatu walau berasal dari tempat yang beda..
Memberi warna pada telaga bersemi cinta..

Usahlah berfikir jari manismu melingkar cincin dari aku atau tidak..
Yakinlah rasa sayangku melingkar erat di hati dan ragamu..
Sepanjang goresan tinta tak akan mampu memujamu..
Hamparan samudera tak akan sanggup menampung cinta dan sayangku padamu...

Puisi lainya

MERELAKAN MATAHARI 

Oleh Pandu Wicaksono

Jam tiga pagi aku menunggu
Garis terang di cakrawala
Selepas malam yang terlampau gelap
Padahal cahaya itu sama saja

Bulan seakan berikan janji
Pagi nanti kamu mungkin kembali
Terangi hari seorang penyendiri
Atau redup meredam harap

Masih terdiam mendongak ke langit
Dan jika nanti kau bersinar
Aku rela menatapmu hingga buta
Biar tubuhku rasakan hangatmu saja

Puisi lainnya

ILALANG KUSAM

Oleh Miss Gita Malhotra
 
Ku dengar denting prau kertas itu, melaju ke arah sang mata air
berpadu menginjak daur daur angin, mengalun bersama kain kain kusut
Ku sanding beberapa batu
tak kuasa itu adalah buaianmu
batu yang kokoh menjadi permadani indah
Usah kau kenang
Itu masa lalu

Deburan ombak kisahnya, makna yang sulit
Jangan tunduk kasih, tatap aku penuh gelora
Kau yang pertama
Jangan kau berani
Tataplah prau itu, sandaran hati nan pilu
Kau rangkul dengan nahkoda

Kisah yang rumit, bak ilalang menanti bunga mawar
Jangan salah kasih, aku menantimu

Pudaran angin sepoi itu pelindungku, sungai nan indah itu maduku
Tak ada daya upaya selain nahkoda prau
Aku yang ilalang penuh debu
Bermuka kusam mengharap ratapan bunga mawar